Home Uncategorized Pengembangan B40 Bisa Dijalankan Tahun Depan, Asalkan ...

Pengembangan B40 Bisa Dijalankan Tahun Depan, Asalkan …

Bisnis.com | Rabu, 21 April 2021

Pengembangan B40 Bisa Dijalankan Tahun Depan, Asalkan …

Program pengembangan biodiesel 40 persen dapat diimplementasikan pada tahun depan setelah dipastikan tidak akan dikembangkan pada tahun ini. Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang mengatakan pada saat ini pengembangan B40 masih terbagi menjadi 2 opsi campuran yakni dengan fatty acid methyl ester (FAME) dan campuran green diesel. Menurut Togar, apabila menggunakan FAME sebagai campuran biodiesel, seharusnya hal itu sudah siap dilaksanakan pada tahun depan. “Kalau bicara B40 dengan FAME itu mungkin bisa dilakukan tahun depan dengan kapasitas produksi yang ada saat ini,” katanya dalam webinar yang digelar pada Rabu (21/4/2021). Sementara itu, pengembangan B40 bisa saja diprediksi molor selama dua atau tiga tahun ke depan apabila menggunakan campuran green diesel yang tengah dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero). Menurut Togar, B40 dengan campuran green diesel baru akan dapat diimplementasikan pada 2023 atau bahkan 2024 dan dinilai tidak akan mencapai 40 persen, tetapi  hanya mencapai sekitar 32,5 persen atau 35 persen. “Kita harus liat dulu roadmap atau rencana Pertamina untuk green diesel dan juga sebenarnya B40 ini harus ada investasi baru khusus untuk produksi green diesel-nya, jadi paling mentok rencana 32 persen kalau kita mengharapkan coprocessing-nya Pertamina,” jelasnya. Sementara itu, Kasbudit Keteknikan & Lingkungan Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Effendi Manurung mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan pengembangan B40 akan mulai dilaksanakan. Menurut dia, masih perlu adanya diskusi dengan berbagai pihak mulai dari konsumen, produsen kendaraan, dan pengelola limbah. Dengan hal itu, pengembangan B40 tidak bisa secara cepat dilakukan. “Tentunya kami yang bertugas memastikan ketersediaan energi di sisi kami bisa secepatnya dilakukan, tetapi untuk secepat itu harus perlu dukungan seluruh stakeholder baik itu dari produsen, pengguna, limbahnya, itu semua sama-sama, jadi agak sulit saya menyampaikan targetnya,” ungkapnya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210421/44/1384366/pengembangan-b40-bisa-dijalankan-tahun-depan-asalkan

Tribunnews.com | Rabu, 21 April 2021

Kenaikan Produksi Bahan Bakar Nabati Ancam Kelestarian Hutan

CDP, organisasi nirlaba internasional yang bergerak di bidang lingkungan hidup menyatakan produksi bahan bakar nabati dari sawit mengancam kelestarian hutan di Indonesia. Direktur CDP untuk Hong Kong, Asia Tenggara, Australia & Selandia Baru  Pratima Divgi mengatakan perlunya menyeimbangkan kesehatan fiskal dan lingkungan hidup di Indonesia, produksi dan konsumsi biodiesel haruslah berkelanjutan. “Penerapan transparansi yang kuat untuk melacak dan memastikan sumber, produksi dan konsumsi biodiesel yang berkelanjutan perlu menjadi prioritas agar dapat sejalan serta mendukung ambisi kebijakan yang ada,” kata Pratima, dalam webinar Seberapa Hijaukah Bahan Bakar Nabati (Biofuel)?, Rabu (21/4/2021). Menurutnya, harus ada kebijakan yang membantu meningkatkan penjagaan lingkungan bagi produksi sawit, meningkatkan pengungkapan korporat dalam hal lingkungan terkait rantai pasok biodiesel, dan meningkatkan dialog dan kerja sama publik-swasta. Pemerintah Indonesia berambisi untuk untuk menyeimbangkan kelestarian lingkungan hidup dengan kesejahteraan sosial dan pertumbuhan ekonomi yang diuraikan dalam Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau BAPPENAS. Rencana ini juga mencakup komitmen untuk menangani deforestasi, yang dilihat sebagai salah satu tantangan utama dari aspek lingkungan dan sosial yang dihadapi Indonesia. Sejalan dengan rencana ini, pemerintah juga berupaya untuk mengurangi emisi karbon dengan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang diimpor. Sejak tahun 2006, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk meningkatkan konsumsi bahan bakar nabati, terutama bahan bakar nabati berbasis minyak sawit. Namun, isu biofuel tidak dapat dipisahkan dengan tantangan terkait dengan minyak sawit, yang dilihat sebagai salah satu penyebab berkurangnya luasan hutan di Indonesia. Sebagai komoditas perkebunan, sawit berperan sangat penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Jika biodiesel berbasis sawit dicanangkan untuk menggantikan konsumsi energi bahan bakar fosil sebagai bahan bakar alternatif ‘hijau’, maka yang menjadi perhatian utamanya adalah aspek kelestariannya. Dalam telaah kebijakan bahan bakar nabati (biofuel) di Indonesia yang dikeluarkan oleh CDP, menemukan bahwa kebijakan biofuel yang ada saat ini, dapat menyebabkan peningkatan tekanan terhadap hutan di Indonesia. Dengan lemahnya kewajiban sertifikasi, adanya subsidi untuk biofuel serta dorongan yang agresif untuk meningkatkan produksi minyak sawit, dapat membuat kondisi yang menyebabkan para produsen minyak sawit untuk mempertahankan sistem bisnisnya seperti biasa. Risiko-risiko lingkungan yang muncul akibat kerangka peraturan ini membuat perluasan bahan bakar nabati berjalan melenceng dari target yang telah ditetapkan Pemerintah. Padahal target tersebut bertujuan untuk mengurangi deforestasi dan emisi, sesuai dengan Perjanjian Paris.

https://www.tribunnews.com/bisnis/2021/04/21/kenaikan-produksi-bahan-bakar-nabati-ancam-kelestarian-hutan?page=all

Pikiran-Rakyat.com | Rabu, 21 April 2021

Pakai Biodiesel, Simak Beberapa Hal Ini yang Perlu Diperhatikan

Pemerintah saat ini tengah menggencarkan pemanfaatan biodiesel sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan alami yang terbarukan seperti minyak nabati dan hewani. Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar untuk mesin diesel dan dapat digunakan sebagai minyak bakar. Sektor yang menggunakan biodiesel di antaranya sektor transportasi, industri, dan pembangkit listrik. Biodiesel sendiri sudah diakui dan digunakan sebagai bahan bakar natural di Indonesia. sudah ada standar mutu biodiesel dan juga peraturan yang mengatur tentang penggunaannya. Standar mutu biodiesel dalam negeri di Indonesia mengikuti SK Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi No. 100 K/10/DJE/2016 dan telah diperbarui dengan SK Dirjen EBTKE No. 189.K/10/DJE/2019. Sementara itu, Penggunaan biodiesel dalam negeri diatur oleh peraturan menteri ESDM no 12 tahun 2015 yang mewajibkan penggunaan biodiesel minimal 20% untuk sektor Usaha Mikro, Usaha Perikanan, Usaha Pertanian, Transportasi, dan Pelayanan Umum (PSO), Transportasi Non PSO, serta Industri dan komersial. sementara untuk sektor pembangkit listrik diwajibkan minimal 25% dari kebutuhan total. kewajiban ini aktif mulai april 2015 dan akan naik angkanya Januari 2016. Kementerian ESDM menyebutkan pemanfaatan biodiesel menjadi bentuk ketahanan energi nasional. Selain itu juga dapat mengurangi konsumsi dan bahan bakar fossil, mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi dengan mengembangkan biodiesel berbasis industri pada sumber daya lokal/domestik. Adapun pemanfaatan biodiesel ini adalah sesuai dengan Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi. Biodiesel siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian. Penyesuaian dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat terutama mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan karet nitril. Soal penyimpananan, biodiesel harus disimpan di wadah tertutup untuk menghindari kontak langsung dengan udara luar, air, dan sinar matahari untuk menghindari oksidasi. Hindari pula tempat penyimpanan dari bahan kuningan, perunggu, tembaga, timbal, timah, dan seng yang dapat mengoksidasi biodiesel. Sebaiknya menggunakan tempat penyimpanan berbahan alumunium, steel, fluorinated polyethylene, fluorinated polypropylene, teflon, nylon, dan viton yang tidak terpengaruh oleh biodiesel. Walau memang diakui biodiesel sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, akan tetapi pemafaatannya tetap perlu memperhatikan beberapa hal. Diantaranya sebagai berikut.

1. Biodiesel bila ditampung dalam penampungan tertentu lebih rentan terjadinya penumpukan gum dan air.

2. Adanya kadar air dan gum di bahan bakar biodiesel ini, menghambat kerja mesin genset utamanya aliran bahan bakar menjadi tidak lancar pada saluran bahan bakarnya.

3. Oleh karena itu, perlu ada perawatan khusus, yaitu dengan fuel treatment system. Alat ini akan menyaring air dan gum sehingga menjadi bahan bakalnya bersih.

https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-011804243/pakai-biodiesel-simak-beberapa-hal-ini-yang-perlu-diperhatikan

Katadata.co.id | Rabu, 21 April 2021

Perbandingan Harga Biodiesel dengan Jenis BBM Lain

Untuk mengurangi pemanasan global, khususnya sumbangan emisi dari sektor energi, Indonesia menggenjot penggunaan bahan bakar nabati (BBN) untuk kendaraan. Ini dikarenakan, kendaraan berbahan bakar nabati lebih rendah emisi dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Indonesia sendiri mengembangkan beragam BBN, di antaranya bioethanol dan biodiesel. Sejauh ini, kelapa sawit menjadi bahan baku utama pengembangan biodiesel dan telah dijadikan sebagai mandatori untuk didistribusikan ke masyarakat. Penerapannya semakin meningkat, dari campuran 10 persen hingga kini mencapai 30 persen. Di pasaran, harga biodiesel bersaing dengan harga bahan bakar jenis lain. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, per April 2021, harga biodiesel berada pada kisaran Rp 10.131 per liternya. Harga ini sedikit lebih tinggi dibanding solar non-subsidi sebesar Rp 9.400.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/04/21/perbandingan-harga-biodiesel-dengan-jenis-bbm-lain

Katadata.co.id | Rabu, 21 April 2021

Implementasi Minyak Nabati di Berbagai Negara

Tidak hanya di Indonesia, bahan bakar nabati (BBN) juga telah banyak digunakan di berbagai negara. Terdapat berbagai bahan baku dan strategi yang digunakan.  Di Thailand misalnya, jenis BBN yang digunakan berasal dari minyak kelapa sawit. Sejak 2012 hingga 2022 mendatang, pemerintah Negeri Gajah Putih mengeluarkan mandatori pencampuran 5-10 persen minyak kelapa sawit pada bahan bakar kendaraan. Brasil juga memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai campuran bahan bakar. Bedanya, nilai campuran di Brasil lebih tinggi, mulai 10 persen pada 2018 dan terus meningkat 1 persen setiap tahunnya. Uni Eropa juga memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar. Namun jumlahnya terus dikurangi dengan meningkatkan penggunaan minyak dari tumbuhan lainnya, seperti bunga matahari dan rapeseed.  Amerika Serikat, selain menggunakan tanaman pangan, juga memanfaatkan limbah minyak goreng. Selain itu, setiap produsen dan importir minyak yang bertransaksi di Amerika, wajib menginformasikan volume dan karbon tiap jenis bahan bakarnya. Di Inggris, BBN yang digunakan berasal dari limbah minyak goreng yang dikombinasikan dengan minyak dari tanaman pangan. Meski masih menggunakan minyak dari tanaman pangan, jumlah maksimal yang digunakan hanya tujuh persen dari total produksi biodiesel. Berdasarkan kajian Traction Energy Asia, program pengembangan bahan bakar nabati di berbagai negara tersebut bukan tanpa kendala. Tantangan yang muncul dalam pengembangan minyak nabati ini antara lain perlunya peta jalan pengembangan BBN dan dibutuhkannya standarisasi biodiesel dari hulu ke hilir untuk menjamin keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain itu pelibatan petani mandiri dalam program biodiesel serta risiko persaingan pemanfaatan hasil pertanian pangan dan energi juga perlu menjadi perhatian.

https://katadata.co.id/jeany/infografik/6080178b26715/implementasi-minyak-nabati-di-berbagai-negara

CNBCIndonesia.com | Rabu, 21 April 2021

Good News Buat Papua, Pertamina Tambah Fasilitas Kilang Kasim

Ada kabar baik untuk tanah Papua, khususnya Papua Barat. PT Pertamina (Persero) tengah meningkatkan fasilitas pelabuhan khusus minyak bumi (jetty) dan juga membangun empat tangki bahan bakar minyak (BBM) baru di Kilang Kasim, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Sub Holding Refining & Petrochemical Pertamina, Ifki Sukarya, menyebutkan bahwa fasilitas jetty akan dibangun dengan kapasitas 50 ribu dead weight tonnage/ tonase bobot mati (DWT). Jetty ini akan membuka serta memperluas akses bagi produk minyak mentah dari luar daerah dan bahkan luar negeri demi meningkatkan pasokan energi di kawasan timur Indonesia. Sementara empat tangki baru yang dibangun masing-masing berkapasitas 110 ribu barel. Ini akan meningkatkan ketahanan pasokan BBM di Kilang Kasim menjadi 40 hari. Ifki menjelaskan, proyek bertajuk ‘Open Access Pembangunan Jetty III dan Tangki Timbun’ yang telah dimulai sejak 21 Januari 2021 ini tengah dalam proses penyelesaian sejumlah pekerjaan awal. “Di tahap awal ini, fokus pekerjaan adalah pada detail engineering design, land clearing, survei topografi, bathymetry, soil investigation, serta pembangunan fasilitas temporer,” terang Ifki, seperti dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Rabu (21/04/2021). Ifki melanjutkan, proyek ini dikerjakan secara sinergis dan kolaboratif oleh konsorsium PT Hutama Karya (Persero) – PT Gerbang Sarana Baja (GSB) sebagai kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC), serta PT Inti Karya Persada Tehnik sebagai konsultan manajemen proyek. “Ditunjuknya konsorsium HK-GSB sebagai kontraktor pelaksana menunjukkan sinergi yang baik antar-BUMN serta antara BUMN dan swasta nasional. Kami pastikan pula bahwa proyek telah melalui melalui tender terbuka sebelum menetapkan pemenang,” jelasnya. Sinergi yang erat tersebut diharapkan akan mewujudkan target penyelesaian proyek pada akhir tahun depan. Ifki mengungkapkan bahwa konsorsium kontraktor pelaksana dan Pertamina berkomitmen untuk menyelesaikan proyek pada akhir Desember 2022.

Meski bergerak cepat, menurutnya proyek tak melupakan aspek lokal tanah Papua, terutama kearifan lokal dan tentunya rakyat Papua sendiri. Sebelum pekerjaan pembangunan dimulai, sosialisasi kepada pemangku kepentingan utama telah dilakukan oleh tim manajemen dari kontraktor EPC dan kilang Kasim sejak 12 Januari 2021, terutama kepada tokoh masyarakat di sembilan kampung di Distrik Seget, Kabupaten Sorong. “Bahkan, kami juga menyelenggarakan upacara adat yang melibatkan warga ring 1 Kilang Kasim,” ungkapnya. Di samping memperhatikan kearifan lokal, proyek pun mengutamakan penggunaan tenaga kerja lokal. Ifki mengatakan bahwa tenaga kerja non-skill diutamakan berasal dari warga ring 1 Distrik Seget, Kabupaten Sorong. “Hal itu kami pastikan dengan HK sebagai kontraktor utama dan akan kami monitor terus pelaksanaannya,” ujarnya. Menurutnya, yang tak kalah penting dari aspek lokal adalah dukungan pemerintah daerah. Oleh karena itu, manajemen Kilang Kasim beserta kontraktor pelaksana mengawali sosialisasi proyek di Pemerintah Kabupaten Sorong, Pemerintah Kota Sorong, serta jajaran TNI, Polri, Kejaksaan, hingga Muspika setempat. “Bupati Sorong Jhony Kamuru dan Walikota Sorong Lambert Jitmau saat sosialisasi menunjukkan dukungan konkret dengan memberikan instruksi jajarannya agar mendukung secara penuh kegiatan proyek,” paparnya. Ifki menambahkan, proyek Open Access amat penting bagi Kilang Kasim sebagai satu-satunya kilang di wilayah Indonesia Timur. Fasilitas yang dibangun nanti akan memungkinkan kapal bermuatan >200.000 barel minyak mentah dapat bersandar, sehingga tidak hanya akan mengembalikan kapasitas desain Kilang Kasim yang sebesar 10.000 barrels per stream day (BPSD/ per hari), tetapi juga dalam jangka panjang berpotensi dapat meningkatkan kapasitas hingga 50.000 BPSD. Saat ini, lanjut Ifki, pemenuhan kebutuhan BBM oleh Kilang Kasim di wilayah sekitarnya masih rendah, dan kekurangannya dipasok dari Kilang Balikpapan. Padahal, masyarakat di Sorong Raya, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat amat mengandalkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari kilang yang menghasilkan produk Premium, Biosolar B-30, dan Marine Fuel Oil (MFO) ini. Di samping itu, berkurangnya pasokan minyak mentah dari produsen semakin menurunkan kapasitas pengolahan kilang (turn down capacity) menjadi 6.000 BPSD saja. “Proyek Open Access akan membantu Kilang Kasim dalam memenuhi 100% kebutuhan energi di kawasan timur Indonesia. Proyek ini diharapkan akan menjadi barometer implementasi ‘Energizing You’ Pertamina di kawasan Terdepan, Tertinggal, Terluar (3T). Masyarakat pun bisa mendapatkan multiplier effect dari proyek ini,” tuturnya.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20210421205740-4-239780/good-news-buat-papua-pertamina-tambah-fasilitas-kilang-kasim

Bisnis Indonesia | Kamis, 22 April 2021

Energi Terbarukan Jadi Kunci

Pengembangan energi terbarukan dan kendaraan listrik dapat menjadi salah satu kunci untuk memulihkan kembali sektor energi di Indonesia pascapandemi Covid-19. Dalam laporan berjudul Ten Ways to Boost Indonesia\’s Energy Sector in A Pos-tpandemic World, McKinsey Company menyebutkan bahwa akibat pandemi Co-vid-19, permintaan terhadap energi di Indonesia secara keseluruhan dapat berkurang hingga 7% dan PDB sebesar l%-4% pada 2020. Senior Partner di McKinsey Company Indonesia Khoon Tee Tan mengatakan bahwa salah satu gagasan untuk kembali mendorong sektor energi di Indonesia adalah pengembangan energi terbarukan. “Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan enam kali lipat dari kapasitas pembangkit energi terbarukan yang ada saat ini. Namun, yang kami li- hat sekarang ini kapasitas terpasang hanya bertambah sedikit-sedikit, masih sangat rendah,” ujar Khoon dalam sebuah diskusi secara virtual, Rabu (21/4). Menurutnya, pengembangan energi terbarukan di Indonesia memang masih menghadapi tantangan terkait harga yang belum kompetitif dibandingkan dengan harga listrik dari energi fosil. Harga listrik dari energi surya dan energi angin, misalnya, saat ini masih mahal dibandingkan harga listrik dari energi batu bara dan gas. Namun demikian, dia memperkirakan harga dari energi surya, angin, dan baterai akan menurun dengan sangat cepat. “Dalam 10 tahun ke depan harga dari teknologi surya dan baterai diperkirakan bisa turun hingga 50%,” katanya. Menurutnya, untuk mengembangkan energi terbarukan secara masif, perlu berbagai dukungan melalui promosi tarif yang adil dan efektif, merampingkan proses perizinan, memungkinkan pengadaan proyek PLTS skala besar, dan memberi insentif untuk energi terbarukan. Terkait kendaraan listrik, McKinsey menilai hal itu tidak hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga akan membantu mengurangi ketergantungan negara pada minyak.

Perusahaan konsultan dan manajemen global itu memperkirakan impor minyak bisa ditekan senilai US$100 juta per tahun untuk setiap 1 juta mobil listrik di Indonesia. Menteri ESDM Arifin Tasrif menegaskan bahwa Indonesia akan mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan guna mencapai target pengurangan emisi sesuai dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam Paris Agreement. “Pemerintah sedang menyusun rencana jangka pan-jang pemanfaatan energi baru dan terbarukan bahwa pada 2025 mendatang pemanfaatan EBT akan mencapai 24.000 megawatt dan pada 2035 akan ditingkatkan menjadi 38.000 megawatt,” katantya. Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa inovasi dan kesiapan teknologi sangat dibutuhkan untuk bisa memastikan ketersediaan energi sekaligus mengubah komposisi energi nasional menjadi lebih condong kepada energi terbarukan. Adapun, salah satu program pemanfaatan energi terbarukan yang dipacu adalah penggunaan biodiesel. Saat ini, pemerintah tengah berusaha mengimplementasikan campuran bahan nabati hingga 40% (B40) pada bahan bakar minyak. Program pengembangan biodiesel 40% tersebut dapat diimplementasikan pada tahun depan setelah dipastikan tidak akan dikembangkan pada tahun ini.

Wartaekonomi.co.id | Rabu, 21 April 2021

Energi Terbarukan Berbasis Sawit Jadi Fokus EBT dari BRIN

Sejumlah inovasi dan kesiapan teknologi dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan energi nasional yang lebih condong pada energi baru terbarukan (EBT). Oleh sebab itu, pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) telah mencanangkan beberapa kegiatan terkait EBT tersebut di dalam Prioritas Riset Nasional Periode 2020-2024. “Tentunya, target akhirnya adalah pada 2024, kita bisa mendapatkan peningkatan dari energi baru terbarukan di dalam energi mix nasional,” ujar Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro, seperti dikutip dari laman setkab.go.id. Dipaparkan Bambang, terdapat lima agenda utama terkait EBT yang dilakukan dalam Prioritas Riset Nasional 2020-2024. Pertama, target menghasilkan bahan bakar nabati yang 100 persen berasal dari kelapa sawit. Kedua, EBT berupa biogas yang banyak digunakan terutama di perkebunan sawit. Ketiga, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil. “Karena itu, kami mengembangkan PLTP skala kecil yang mudah-mudahan bisa dikembangkan di berbagai daerah yang punya kandungan panas bumi sehingga listrik yang dihasilkan akan bermanfaat bagi daerah sekitarnya,” ungkap Bambang. Keempat, penggunaan baterai listrik. Bambang mengungkapkan, selain baterai litium, pihaknya juga mengembangkan fast charging untuk keperluan kendaraan listrik serta teknologi battery swapping. Kelima, pemerintah tetap menjaga pengembangan teknologi nuklir untuk memastikan pemenuhan kebutuhan listrik saat ekonomi Indonesia makin tumbuh di masa yang akan datang. “Untuk memastikan listrik memadai, tentunya kita pada satu sisi juga harus comply kepada yang namanya Paris Agreement atau green economy. Karenanya, bagaimanapun kesiapan teknologi nuklir harus terus dijaga, terutama dari unsur keselamatannya, baik lokasi maupun teknologi yang menjamin keselamatan dari teknologi nuklir tersebut,” ujar Bambang. Ditambahkan Bambang, dalam kerangka Paris Agreement dan green economy yang diinginkan oleh Presiden Jokowi, pihaknya juga mengembangkan penelitian berbasis ekonomi sirkular. “Dengan ekonomi sirkular, limbah yang muncul dari kegiatan ekonomi akan diolah kembali, bisa diolah menjadi bahan lainnya, tapi sebagian bisa menjadi energi,” kata Bambang. Oleh sebab itu, teknologi pembangkit listrik berbasis sampah atau teknologi pengolahan sampah harus terus dikembangkan dengan memperhatikan berbagai jenis sampah yang ada di Indonesia.

https://www.wartaekonomi.co.id/read338012/energi-terbarukan-berbasis-sawit-jadi-fokus-ebt-dari-brin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *