Home Uncategorized Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100

Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100

Investor Daily Indonesia | Selasa, 12 Januari 2021

Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menargetkan Kilang Cilacap dapat memproduksi solar hijau yang berasal dari pengolahan minyak sawit 100% atau D-100 sebesar 3.000 barel per hari (bph) di akhir tahun ini. Hal ini menyusul rampungnya modifikasi unit di Kilang Cilacap. Sekretaris Perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Ifki Sukarya menuturkan, tahap desain dari modifikasi unit di Kilang Cilacap tersebut sudah rampung. Berikutnya pihaknya akan memulai konstruksi modifikasi peralatan Fase-1 dan ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. Pada saat itu, Kilang Cilacap dapat mengolah minyak sawit yang telah dihilangkang getah, impurities, dan baunya {Refined, Bleached and Deodorized Palm CWRBDPO) menjadi D-100 sebesar 3 ribu bph. “Konstruksi Fase-ldilak-sanakan bersamaan dengan program perawatan kilang pada akhir 2021,” kata dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. Untuk modifikasi unit ini, jelasnya, beberapa peralatan hanya perlu dimodifikasi atau di-upgrade. Namun, beberapa peralatan perlu dilakukan pengadaan baru. Secara paralel, pihaknya akan menggarap desain konstruksi Fase-2 bersamaan dengan penyelesaian Fase-1. Nantinya, Fase-2 proyek ini dapat menghasilkan D-100 hingga 6 ribu bph. “Tahapan konstruksi Fase-2 dilaksanakan setelah Fase-1. Tahap konstruksi Fase-2 ditargetkan mulai pada pertengahan 2021 hingga akhir 2022,” jelas Ifki. Secara terpisah, Vice President Strategic Planning Kilang Pertamina Internasional Prayitno sempat mengungkapkan, perseroan mengembangkan pengolahan minyak sawit sebagai campuran solar di kilang dengan metode co-processing sejak 2014 lalu. Campuran RBDPO ini awalnya hanya 7,5% dan mampu terus ditingkatkan hingga 100% (D-100) di Kilang Dumai pada tahun lalu. Ke depannya, pihaknya akan fokus mengembangkan D-100. Selain modifikasi unit di Kilang Cilacap, Pertamina juga akan membangun kilang hijau. “Di Plaju, kami bangun baru biorefinery berkapasitas 20 ribu bph dengan feed minyak sawit,” ungkapnya. Menurut Prayitno.tek-nologi pengolahan minyak sawit menjadi solar hijau atau D-100 ini sudah terbukti. Bahkan, kilang yang mampu menghasilkan produk ini sudah cukup banyak yang beroperasi di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, serta negara-negara Eropa dan Timur Tengah. Proyek Kilang Hijau Cilacap dan Plaju masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 yang merupakan revisi Per-pres3/2016. Sebelumnya, kedua proyek ini masuk daftar prioritas dalam Perpres 18/2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, sesuai program pemerintah, perbaikan dan pembangunan kilang untuk menghasilkan D-100 ini cukup penting. Pasalnya, secara teknis, pencampuran/afty acid methyl ester (FAME) dengan solar hanya dapat dilakukan sampai maksimal kadar 30% saja. Hal ini mengingat kandungan air atau gliserin dalam FAME sangat tinggi. Di sisi lain, dalam roadmap mandatori pemerintah, pencampuran FAME ditargetkan mencapai 50% atau biodiesel 50% (B50). “Jadi selebihnya kalau mau B40 atau B50 harus ditambahkan HVO (hydrotreated vegetable oil) atau B100 (D-100). Jadi kalau B50 maka 20% FAME dan 30% HVO,” paparnya.

Wartaekonomi.co.id | Senin, 11 Januari 2021

Begini Konsep Pertamina Produksi Bensin Sawit

PT Pertamina (Persero) telah memiliki rencana untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM) berbahan baku yang ramah lingkungan di masa depan. Sudah bukan rahasia lagi jika minyak sawit dapat diproses dan diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar nabati pengganti bahan bakar fosil. Tidak hanya akan berhenti pada green diesel saja, minyak sawit juga akan diolah menjadi green gasoline (bensin sawit). VP Strategic Planning Refining and Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional, Prayitno mengatakan, pihaknya akan memodifikasi salah satu unit Kilang Cilacap, Jawa Tengah untuk mengolah 100 persen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).  Terdapat dua tahap produksi bahan bakar hijau (green fuel) pada kilang tersebut. Tahap pertama, akan mengolah CPO setara 3.000 barel per hari (bph) atau sekitar 477 kiloliter per hari. Tahap kedua, akan mengolah CPO setara 6.000 bph, yang artinya kapasitas akan meningkat dua kali lipat. Selain Kilang Cilacap, PT Pertamina juga akan membangun baru kilang untuk green energy di Kilang Plaju, Sumatera Selatan. “Kalau di Plaju ini bukan modifikasi, tapi kita rencanakan bangun baru biorefinery, kapasitas 20.000 bph dengan bahan baku CPO. Kalau dari sisi kioliter per harinya itu sekitar 3.180,” ujarnya dalam ‘Katadata Forum Virtual Series: Peluang Minyak Jelantah Sebagai Alternatif Bahan Baku Biodiesel’, Kamis (07/01/2021). Dia juga menjelaskan, Pertamina sudah mulai melakukan uji coba mengolah CPO menjadi green diesel sejak Desember 2014, dengan komposisi minyak sawit sebesar 7,5 persen. Kemudian, pada Januari 2019 dilakukan kembali uji coba mengolah CPO menjadi green diesel di Kilang Dumai, Riau dan ditingkatkan porsinya menjadi 12,5 persen. Artinya, 12,5 persen CPO dicampurkan dengan bahan bakar fosil di kilang yang sudah ada. Lalu, pada Juli 2020 Pertamina sudah bisa mengolah 100 persen CPO menjadi green diesel di Kilang Dumai. “Tahun 2020 di Juli Alhamdulillah kita bisa mengolah 100 persen CPO menjadi green diesel. Produknya adalah D100,” ujarnya.  Kemudian, dari sisi produksi green gasoline (bensin sawit), Pertamina telah melakukan uji coba di Kilang Plaju. Pertamina menginjeksikan turunan produk minyak sawit (RBDPO) sebesar 15 persen pada 2019, lalu pada 2020 naik menjadi sebesar 20 persen. Uji coba serupa menurutnya juga dilakukan di Kilang Cilacap dan berhasil di tingkat pencampuran sawit sekitar 13 persen. “Konsepnya sama, Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO)-nya dicampur dengan fossil fuel, diolah di kilang yang sudah kita punya,” pungkasnya.

https://www.wartaekonomi.co.id/read322211/begini-konsep-pertamina-produksi-bensin-sawit

Bisnis.com | Senin, 11 Januari 2021

Potensi Minyak Jelantah untuk Pasokan Biodiesel Nasional

Indonesia termasuk salah satu negara pengguna minyak sawit yang cukup banyak. Pada 2019, penggunaan minyak goreng di Tanah Air mencapai 13 juta ton per tahun atau setara dengan 16,2 juta kiloliter per tahun. Sedangkan potensi minyak jelantah setiap tahunnya 3 juta kiloliter. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna mengatakan bahwa minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) memiliki berbagai kegunaan, terutama untuk biodiesel. “Kalau bisa kita kelola (minyak jelantah) dengan baik, bisa memenuhi sebagian kebutuhan biodiesel nasional,” ucap Andriah dalam webinar Katadata bertema Peluang Minyak Jelantah Sebagai Alternatif Bahan Baku Biodiesel. Selain itu, pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah memiliki peluang untuk dipasarkan baik di dalam negeri maupun untuk diekspor. Dipasarkan di luar negeri pun memiliki peluang yang cukup besar. Dengan memanfaatkan minyak jelantah, biaya produksi pun bisa lebih hemat 35 persen, dibandingkan dengan biodiesel dari minyak nabati yang dihasilkan dari tanaman buah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). “Tapi, ini harus dilihat lagi, karena kita liat dari beberapa industri yang ada tidak bisa sustain. Ada hal-hal yang memengaruhi biaya operasionalnya,” ungkap Andriah. Sementara itu, untuk pemanfaatan minyak jelantah sebagai feedstock biorefinery, menurut VP Strategic Planing Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional, Prayitno masih ada hal yang harus dipikirkan. “Untuk UCO yang menjadi salah satu PRnya bagaimana kita mengumpulkan minyak jelantah untuk skala industri, termasuk logistik dan handling. Kita bisa benchmark dari perusahaan di luar (negeri), bagaimana mereka mengumpulkan minyak jelantah,” jelas Prayitno. “Untuk CPO, kita perlu jaminan feedstock serta semacam kebijakan atau support dari stakeholder untuk memastikan secara bisnis juga, baik bagi perusahaan yang melaksanakan kegiatan ini,” sambungnya. Apabila sekitar 1,2 juta kilo biodiesel dari kelapa sawit diganti dengan minyak jelantah yang dikumpulkan dari sektor rumah tangga, maka bisa menghemat sekitar Rp 4,2 triliun. Angka itu sesuai dengan angka data produksi biodiesel dari 2020. Namun, ada tantangan untuk mewujudkan hal tersebut.  “Kita enggak menutup mata pengumpulan use cooking oil dari sektor rumah tangga akan sangat susah dilakukan, bukan berarti susah itu enggak bisa dilakukan,” kata Tenny Kristiana, Peneliti ICCT untuk Program Bahan Bakar. Pada 2018, studi The International Council on Clean Transportation (ICCT) menyebutkan produksi minyak jelantah dari restoran, hotel, hingga sekolah mencapai 157 juta liter untuk wilayah perkotaan saja. Adapun produksi dari sektor rumah tangga bahkan mencapai 1.638 juta liter.

Meski demikian, minyak jelantah adalah salah satu limbah minyak kelapa sawit yang keberadaannya membahayakan lingkungan dan kesehatan. Mengutip kajian ICCT, berdasarkan survei yang dilakukan pada 2017 menemukan bahwa 51% minyak jelantah rumah tangga di Tangerang menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Sebesar 39% terbuang di selokan dan 4% mencemari tanah. Hal tersebut juga terjadi di Bogor (2015) di mana 51% of UCO rumah tangga di Bogor menjadi limbah selokan sedangkan 17% mencemari tanah. Di sisi kesehatan, minyak jelantah juga menjadi ancaman bagi tinggginya jumlah penyakit kronis layaknya jantung, kolesterol, stroke, hingga kanker. Minyak goreng sawit berbahaya bagi kesehatan jika digunakan kembali untuk memasak dalam bentuk jelantah karena proses pemanasan yang lama ataupun berulang akan menyebabkan oksidasi dan polimerisasi asam lemak yang menghasilkan radikal bebas senyawa peroksida yang bersifat toksis bagi sel tubuh. Di sisi lain, pemerintah sedang menggalakan program Bahan Bakar Nabati (BBN) melalui produksi biodiesel untuk mewujudkan ketahanan energi masa depan. Bahan baku pembuatan biodiesel berasal dari minyak sawit (CPO) yang dapat menghasilkan bahan bakar pengganti solar. Bahkan Pada Desember 2019, Presiden Jokowi meluncurkan program Biodiesel 30 persen untuk mendukung program mengurangi impor energi. Adapun pada 2020, pemerintah kian ambisius untuk menggenjot biodiesel kualitas B40 hingga B50.  Oleh karena itu, limbah minyak jelantah yang melimpah dapat dimanfaatkan menjadi berkah untuk mendukung program pemerintah sebagai alternatif bahan baku biodiesel. Berdasarkan data ICCT dari total produksi minyak jelantah 2018, mampu berkontribusi terhadap 35% produksi biodiesel nasional. Tentu fakta tersebut merupakan potensi yang cukup besar. Selain itu, penggunaan minyak jelantah lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *