Home Uncategorized Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?

Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?

Wartaekonomi.co.id | Senin, 13 Juli 2020

Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?

Setelah sukses dengan B20 dan B30 yang on the way, kelapa sawit kembali menunjukkan “taringnya” sebagai sumber energi terbarukan dalam bentuk bensin/gasoline. Sebagai salah satu jenis BBM (Bahan Bakar Minyak) yang mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, konsumsi bensin Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebanyak 34,15 juta kiloliter. Kementerian ESDM memperkirakan, konsumsi bensin Indonesia pada 2020 mencapai 40 juta kiloliter dan pada 2025 mencapai 43,15 juta kiloliter. Namun masalahnya, jika konsumsi bahan bakar fosil meningkat, berarti volume impor terhadap bahan bakar tersebut juga akan meningkat. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia akan makin terkuras dan kontribusi emisi karbon CO2 akibat penggunaan bahan bakar fosil juga akan meningkat. Berbekal kondisi tersebut, pengembangan bahan bakar nabati sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan menghemat devisa negara perlu digalakkan. Jika biodiesel dari minyak sawit dapat menjadi substitusi diesel fosil, bioethanol dari kelapa sawit dapat menjadi substitusi bensin/gasoline. Mengutip data PASPI, bioethanol merupakan etanol (etil alkohol) yang proses produksinya menggunakan bahan baku alami dan proses biologi yakni melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Sejak tahun 2006, Indonesia sudah mengembangkan bioethanol yang berasal dari tebu, jagung, dan singkong. Seiring berjalannya waktu, biomassa sawit seperti batang dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) juga berpotensi untuk dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku bioethanol.

Batang sawit memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi yakni mencapai 86,03 persen, sedangkan TKKS mengandung selulosa sebanyak 41,3–41,6 persen, 25,3–33,8 persen hemiselulosa, dan lignin 27,6–32,5 persen. Kandungan selulosa inilah yang nantinya akan direduksi melalui proses kimiawi untuk difermentasikan menjadi bioethanol. Hasil penelitian Badger (2002), jika PKS (pabrik kelapa sawit) dengan kapasitas produksi 60 ton TBS (tandan buah segar) per jam dengan total jam operasi 20 jam per hari, 300 hari per tahun menghasilkan TKKS sekitar 300 ton per hari atau sekitar 90.000 ton per tahun, potensi etanol yang dihasilkan yakni 45.300 liter per hari atau sekitar 13,95 juta liter per tahun. Selain selulosa, potensi etanol yang dapat dihasilkan dari hemiselulosa TKKS di Indonesia adalah 844,6 juta liter per tahun atau 2,82 juta liter per hari, sedangkan potensi yang sama dari PKS berkapasitas 60 ton TBS per jam adalah 3,2 juta liter per tahun atau 0,01 juta liter per hari. Tidakkah sangat dahsyat potensi bioethanol kelapa sawit tersebut? Jika konsumsi bensin Indonesia pada 2025 diperkirakan sebanyak 43,15 juta kiloliter, dengan potensi bioethanol yang ada, bukankah Indonesia dapat terlepas dari ketergantungan bensin/gasoline fosil?

https://www.wartaekonomi.co.id/read294489/biodiesel-oke-next-bensin-sawit

Jawapos.com | Senin, 13 Juli 2020

Penerapan Euro4 Ditunda 2022, Isuzu Dukung Aturan Pemerintah

Sebagai partner bisnis pengusaha truk, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) siap menyambut kebijakan Euro4 meskipun ditunda pada 2022 karena dampak pandemi Covid-19. Isuzu menjamin kendaraannya sudah sejak lama mengadopsi teknologi Euro4. Kendaraan Isuzu saat ini juga telah siap mengonsumsi bahan bakar B30 (biodiesel) dengan tetap melakukan perawatan berkala. ”Sejak pemerintah memutuskan Indonesia harus mengimplementasikan Euro 4 dan B30, kami langsung bergerak cepat, mengonsolidasikan semua engineer, termasuk bekerja sama dengan prinsipal kami di Jepang, untuk segera mempersiapkan produk yang sesuai,” ujar Presiden Direktur IAMI Ernando Demily saat webinar Rising the Future in the Middle of Pandemic, Senin (13/07). Dia mengakui bahwa menyesuaikan kendaraan dengan standar Euro4 serta mampu mengkonsumsi bahan bakar B30 merupakan kasus menantang. ”Kita harus comply terhadap Euro4. Tapi pada saat yang bersamaan, pemerintah juga meminta kita comply dengan B30. Alhamdulillah sekarang Isuzu bisa declare bahwa kami siap mengimplementasikan Euro4 dan juga B30,” tegasnya. Isuzu sejak lama sudah mengimplementasikan teknologi Euro 4. ”Salah satu persyaratan kendaraaan Euro4 adalah menggunakan mesin common rail. Sejak 2011, Isuzu memperkenalkan kendaraan common rail yang kita kenal dengan nama Isuzu GIGA dan Isuzu ELF. Tentu kami sudah siap Euro4,” tegasnya.

Terkait penjualan di era new normal, Ernando menjelaskan bahwa pihaknya mengadopsi strategi 4R. Yakni, reaction, recession, rebound, dan reimagine. Banyak organisasi hanya berfokus pada strategi reaction, namun melupakan tiga hal lainnya. ”Pada reaction, yang menjadi prioritas kami tentunya keselamatan dan kesehatan insan Isuzu dan semua pihak yang terkait, termasuk diler dan supplier. Lalu, di tahap recession yang pertama kita lakukan adalah melakukan manajemen cash flow dengan ketat,” ungkapnya. Pada fase rebound, pihaknya memperkirakan bisnis tidak akan kembali normal. ”Kita tata ulang lagi segmen-segmen apa yang akan tetap tumbuh dan berkembang di era new normal ini. Tentunya seiring dengan perubahan customer behavior,” tambahnya. Pada saat bersamaan, Isuzu juga melakukan pendekatan dengan reimagine. Menurut Ernando, pada saat customer behavior berubah, Isuzu juga harus mengadopsi cara kerja yang sesuai. Salah satunya melakukan pertemuan secara webinar. General Manager Marketing Isuzu Astra Motor Indonesia Attias Asril menambahkan, sejak pembatasan sosial skala besar (PSBB) dilonggarkan, ternyata penjualan kendaraan komersial rebound lebih cepat jika dibandingkan dengan kendaraan nonkomersial (passengers). Meski begitu, pihaknya optimistis pasar akan kembali berangsur membaik seiring kembali bergeraknya sektor logistik dan jasa pengiriman.”Untuk pasar Jawa Timur sampai dengan Mei market share Isuzu sudah 31,4 persen. Khusus di Surabaya bahkan hamper 50 persen,” jelasnya.

Kompas.com | Senin, 13 Juli 2020

Indonesia Imposes Biodiesel Program to Fight Smear Campaign Against Palm Oil in EU

Indonesia hopes its mandatory biodiesel program will help counter the flak its palm oil industry is taking from media and authorities in the European Union. Palm oil exports reached $154.9 million in 2019, accounting for 22.4 percent of the country’s total exports. But the industry continues to suffer the impact of the black propaganda perpetuated to keep the commodity’s price unstable in the export market, according to the Indonesian Oil Palm Estate Fund (BPDP-KS). “The negative campaign is one of the causes of the low selling price of Indonesian palm oil products,” said BPDP-KS Supervisory Board Chairman Rusman Heriawan during a webinar on Monday, June 29. The smear campaign, Rusman said, touched on deforestation, a carbon footprint that was considered high, the welfare of the palm oil farmers, and the use of child labor by palm oil companies. He explained that the palm oil industry contributed significantly to providing job opportunities in Indonesia. The industry has recruited more than 22 million workers from upstream to downstream activities. Of this number, about seven million people work in the upstream sector, while more than 16 million people in the downstream sector, including manpower who are indirectly related to palm oil.

Biodiesel program

In the effort to fight the smear campaign and to stabilize the crude palm oil (CPO) price, the government has begun to run the mandatory biodiesel program. The government mandated a 2.5 percent biodiesel mix in 2008 and gradually increased the biofuel content to 7.5 percent in 2010. Later the percentage of biodiesel increased from 10 percent to 15 percent from 2011 to 2015. Then on January 1, 2016, the government mandated a 20 percent biodiesel mix (B20). Now, the government is intensifying the mandatory B30 or biodiesel program by up to 30 percent. Muhammad Saifullah, Acting Assistant Deputy of Plantation and Horticulture at the Coordinating Ministry for Economic Affairs, said that the mandatory biodiesel program can save up to $6.81 billion in foreign exchange reserves and contribute to tax revenues of up to 2.74 trillion rupiahs ($190 million). Biodiesel could ralso educe greenhouse gas emissions by 23.3 million tons of carbon dioxide (Co2), Saifullah added.  “This was implemented under the 2019 program and the ongoing program this year.”  He further added that the smear campaign carried out by the foreign states and media did not happen for other vegetable oil products such as rapeseed and soybean. As long as the palm oil price remains cheap compared to other vegetable oil prices, the negative campaign will continue, he said.

Lawsuit against EU

The Indonesian government filed a lawsuit against the European Union for discrimination. The lawsuit was filed with the World Trade Organization (WTO) after the European Commission approved the Renewable Energy Directives II (RED2) which targets the use of renewable energy in the European Union in 2030. The lawsuit was filed because last August the European Commission approved the Renewable Energy Directives II (RED2) which targets the use of renewable energy of 32 percent in the European Union in 2030. RED2 has stipulated that the plants used for biofuel must not originate from deforested areas or are planted on peatlands. In the Delegated Ace (DA) regulation, it stated that palm-based biofuel is included in the high-risk Indirect Land Use Change (ILUC) criteria which could damage the environment and cause deforestation. The DA criteria will be reviewed in 2021 before it will be revised in 2023. Paulus Tjakrawan, Chairman of the Association of Indonesian Biodiesel Producers (Aprobi), said that the policy was considered discriminatory because the European Commission’s policy has singled out palm oil, while other vegetable oils were excluded. “Soy oil requires land that is eight times bigger,” Paulus said. He added that the government and oil palm companies are setting up a panel for the WTO session. The lawsuit was filed following the assessment conducted by Indonesia that it had complied with international regulations. The lawsuit on the palm oil industry against the European Union was already made before 2018 when the Indonesian palm industry was accused of selling at cheaper prices abroad than domestic prices. “At that time the standard used was from Germany. It turned out that Indonesia’s biodiesel could reduce emission by more than 50 percent. So the exports reached 1.8 million tons in 2014,” he said. He said that Indonesia was accused of implementing subsidies and selling cheaper palm oil abroad. Indonesia then filed a lawsuit at the WTO in 2018. Indonesia was required to reduce the emission not only by 35 percent but almost 50 percent and it was fulfilled, he said.

https://go.kompas.com/read/2020/07/13/211556974/indonesia-imposes-biodiesel-program-to-fight-smear-campaign-against-palm-oil-in?page=all#page2

Jawa Pos | Selasa, 14 Juli 2020

Naik, Konsumsi CPO Domestik (Terkerek Oleokimia dan Biodiesel)

Konsumsi minyak Kelapa Sawit alias crude Palm Oil (CPO) dalam negeri tetap positif. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menegaskan bahwa pandemi Covid-19 tidak terlalu berpengaruh pada kinerja CPO. Bahkan, konsumsi pada sektor biodiesel dan oleokimia malah meningkat Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan bahwa konsumsi minyak sawit pada Mei 2020 masih positif. Jika dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun lalu, ada penurunan tipis. Tepatnya, sekitar 1,6 persen atau menjadi 1,38 juta ton dari 1,4 juta ton pada April. Konsumsi produk pangan seperti minyak makan dan lainnya turun 8,4 persen atau 61.000 ton. Namun, konsumsi biodiesel dan oleokimia naik. “Konsumsi dalam negeri secara total masih positif di tengah berlakunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Salah satu pemicunya adalah konsumsi oleokimia yang naik31,4 persen,” ujarnya kemarin (13/7). Dia menyebutkan bahwa konsumsi biodiesel meningkat 23,2 persen karena adanya kebijakan pemerintah terkait dengan implementasi wajib B30. Jika dibandingkan dengan Januari-Mei 2019, konsumsi dalam negeri pada periode sama tahun ini mencapai 7,3 juta ton atau tumbuh 3,6 persen. Sementara itu, produksi CPO pada Mei mencapai 3,6 juta ton. Itu turun sekitar 1,9 persen atau kira-kira 67.000 ton daripada bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan Januari-Mei 2019, produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) Januari-Mei 2020 turun 14persen atau sekitar 19.001 ribu ton. “Produksi Mei yang lebih rendah dari April 2020 diduga karena efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman * jelasnya. Sementara itu, mengenai ekspor CPO dan olahannya pada Mei lalu, Gapki mencatat ada penurunan sebesar 8,3 persen dari bulan sebelumnya. Tepatnya, menjadi 2,4 juta ton. Penurunan terjadi pada CPO sebesar 15 persen menjadi 515.000 ton. Olahan CPO turun 8,6 persen menjadi 1,46 juta ton. Ekspor PKO dan olahan PKO tumbuh 10 persen menjadi 142.000 ton dan oleokimia tumbuh tipis 0,3 persen menjadi 312.000 ton. “Penurunan ekspor terutama terjadi pada refinedpalm oi/yang secara umum disebabkan selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil,” ucapnya.

Dia lantas memerinci penurunan terbesar ekspor CPO pada Mei terjadi pada komoditas tujuan Tiongkok. Penurunannya tercatat 21 persen alias 87.700 ton. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa (UE) turun 16,62 persen; Pakistan 23,4 persen; dan India sekitar 9,2 persen. Menurut Mukti, turunnya ekspor ke Tiongkok dipicu meningkatnya pabrik oilseed crushing, khususnya kedelai, yang cukup besar Dengan demikian, pasokan minyak nabati Tiongkok masih tinggi. Meskipun rata-rata ekspor turun, trennya naik di beberapa negara. Misalnya, naik 81 persen di Mesir, 99 persen di Ukraina, 73 persen di Filipina, 35 persen di Jepang, dan 85 persen di Oman. Belakangan, kegiatan perekonomian di Tiongkok, India, dan beberapa negara lainnya mulai pulih. Mukti yakin permintaan minyak nabati dunia perlahan naik. “Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti oleokimia dan biodiesel,” katanya.

Jawa Pos | Selasa, 14 Juli 2020

Olah Tantangan Menjadi Peluang

Persebaran virus SARS-CoV-2 di berbagai belahan dunia menjadi tantangan baru bagi dunia usaha. Termasuk logistik. Di berbagai negara, kinerja logistik menurun karena pemerintah berusaha keras menekan wabah global tersebut. Akibatnya, bisnis yang berkaitan dengan logistik pun terimbas. Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Jatim Ivy Kamadjaja menyebut transportasi dan pergudangan sebagai yang paling ter-dampak. Kinerjanya beruban negatif. “Contohnya, sektor angkutan rel terkontraksi 14,98 persen. Lalu, pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos, dan kurir menurun 9,41 persen,” ujarnya dalam webinar bertajuk Rising the Future in The Middle of Pandemic kemarin (13/7). Menurut Ivy, kendaraan niaga, khususnya truk, juga terdampak signifikan. Penurunan volume angkutnya mencapai 60 persen ketimbang kondisi normal. Namun, daripada angkutan penumpang, angkutan kargo masih bisa bertahan. Yang penting, para pengusaha harus jeli menangkap peluang. “Kita juga harus mau collab supaya bisnis yang kita bangun tidak sampai collapse” ucapnya.

Ivy juga menyebut ketidakmerataan infrastruktur, urusan safety, kebijakan overdimention overloading (ODOL), dan penerapan Euro4 sebagai tantangan industri logistik. “Terkait Euro4 ini sangat challenging karena berhubungan dengan cost” ungkapnya. Dia menegaskan bahwa rata-rata konsumen tutup mata pada urusan ODOL atau Euro4 karena yang terpenting bagi mereka adalah barang cepat sampai. Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia Ernando Demily menegaskan bahwa demand kendaraan niaga tumbuh seiring berkembangnya industri logistik. “Kontribusi logistik terhadap penjualan kendaraan niaga yang semula hanya 25 persen kini menjadi 50 persen. Salah satu pendorongnya adalah lonjakan transaksi e-commerce” katanya kemarin. Emando mengakui banyaknya disrupsi pada sektor logistik. “Selain regulasi ODOL, pemerintah me- request kami agar menyediakan kendaraan yang bisa menerapkan biodiesel 30 dan Euro4,” ujarnya. Penerapan Euro4 itu akan berdampak pada peningkatan biaya operasional. Kendati demikian, Isuzu siap mengimplementasikan Euro4 dan B30 secara bersamaan. Emando berharap industri logistik bisa kembali menggeliat pada kuartal ketiga nanti. Apalagi, PSBB sudah longgar dan pemerintah telah menyiapkan anggaran belanja hampir Rp 700 triliun. “Kami optimistis penjualan kendaraan niaga lebih cepat rebound jika dibandingkan dengan passenger” tuturnya.

Kompas | Selasa, 14 Juli 2020

Pembangkit Listrik Tak Efisien Akan Dihentikan

Pemerintah akan menghentikan semua operasi pembangkit listrik tenaga diesel dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, pembangkit listrik tenaga uap yang sudah berusia tua juga akan segera digantikan dengan teknologi terbaru yang lebih ramah lingkungan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyampaikan hal itu dalam ajang Internationa] Energy Agency (IEA) Clean Energy Transition Summit yang berlangsung secara daring pada 9 Juli 2020. “Di sektor transportasi, kami terus mengembangkan bahan bakar nabati jenis biodiesel yang secara bertahap mengurangi penggunaan solar. Kami juga membangun kilang hijau guna mengoptimalkan pemanfaatan minyak Kelapa Sawit sebagai bahan baku biodiesel,” kata Arifin dalam keterangan resmi, Jumat (10/7/2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *