Home Uncategorized BBM Ramah Lingkungan, B30 Energi Alami untuk Indonesia

BBM Ramah Lingkungan, B30 Energi Alami untuk Indonesia

Sindonews.com | Sabtu, 11 Juli 2020

BBM Ramah Lingkungan, B30 Energi Alami untuk Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Indonesia telah berkomitmen menggunakan biodiesel sebagai salah satu alternatif bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Program nyatanya adalah peresmian Biodiesel 30 Persen (B30) oleh Presiden Joko Widodo pada akhir 2019. Presiden Jokowi saat ini menegaskan bahwa kehadiran B30 untuk mengurangi impor migas dan menekan ketergantungan bahan bakar fosil dengan memanfaatkan kelapa sawit yang melimpah ruah di Indonesia. Kepala Badan Pengembangan SDM Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM Wiratmaja mengatakan, impor minyak Indonesia saat ini sekitar 800.000 barel per hari dari konsumsi total 1,5-1,6 juta barel “Jika program biodiesel ini berkembang, Indonesia bukan mengimpor BBM, namun dapat mengekspor biofuel karena termasuk jenis BBM bersih, ramah lingkungan, dan tentu ini dapat terus diperbarui,” sebutnya, dalam sebuah diskusi virtual yang diadakan Kementerian ESDM. B30 adalah BBM campuran 30% minyak kelapa sawit dan 70% solar untuk mesin diesel.

Kementerian ESDM juga sudah menetapkan harga indeks pasar (HIP) untuk biodiesel pada Juli 2020, yakni Rp7.321 per liter. Besaran angka tersebut mengalami kenaikan dari bulan Juni sebelumnya yang berada di angka Rp6.941 per liter. Tatang Hernas Soerawidjaja, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (Ikabi), mengatakan, kualitas B30 ini sama dengan 95% solar murni. Tentu lebih ramah lingkungan karena efisiensi pembakaran dan emisi gas buangnya lebih bersih. Dia juga meyakini biodiesel tidak mengandung sulfur. Konsumsi spesifik bahan bakar mobil berbahan bakar B30 sedikit lebih besar dari yang berbahan solar murni, namun tidak memengaruhi tenaga mobil. “Biodiesel mengandung atom oksigen sehingga relatif lebih suka air. Maka dari itu, tangki-tangki yang akan digunakan untuk menyimpan B30 harus terlebih dahulu bebas dari kontaminasi air. Selanjutnya harus seperti itu, jangan terkena air,” katanya. Tatang juga menambahkan, biodiesel memiliki daya melarutkan yang baik. “B30 dapat membersihkan kerak di dinding tangki penyimpan dan saluran bahan bakar sehingga bisa menyumbat saringan bahan bakar,” ujarnya.

Karena itu, saat baru menggunakan B30, pada pekan pertama perlu mengganti saringan bahan bakar. Biodiesel tidak kompatibel dengan material-material logam seperti tembaga, timah, seng, kuning, dan perunggu, serta bahan nonlogam seperti karet alam maupun karet sintesis. “Jangan lupa B30 hendaknya tidak berkontak dengan onderdil yang dibuat dari material-material itu. Lebih baik dari bahan baja karbon, baja antikarat, aluminium, teflon, viton, atau nylon 6/6,” sebut Tatang. Berbicara mengenai biodiesel, Provinsi Jawa Tengah sudah lebih dulu menggunakan biodiesel sejak 2018 dengan 20% minyak kelapa sawitnya. Setelah menjadi program pusat, Jawa Tengah menaikkannya lagi sehingga kini sudah sama menjadi 30% atau B30. Eni Lestari, Kabid Energi Baru dan Terbarukan dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, mengatakan, mereka menjadi pelopor penggunaan biodiesel karena mempunyai Perda RUED (Rencana Umum Energi Daerah) Nomor 12 Tahun 2018. Kini sudah 16 provinsi yang juga memiliki kebijakan yang sama dan selalu dimonitor oleh Kemendagri dan Dewan Energi Nasional di bawah Kementerian ESDM. “Provinsi yang belum selalu didorong, karena ini wajib untuk provinsi menyusun kebijakan Perda RUED tersebut,” ujarnya.

Di Jawa Tengah juga mengalami tantangan tersendiri. Pada awal hadirnya biodisel ialah ketersediaan lahan masih fokus untuk pangan, belum untuk energi. Potensi tanaman di Jawa Tengah banyak komoditas namun justru bukan kelapa sawit. Potensi bionabati lain, yakni jagung, daun nyamplung, dan jarak namun masih dalam tahap pengembangan belum komersial. (Baca juga: Hasil Autopsi, Editor Metro TV Tewas karena Dua Tusukan) Di Jawa Tengah sudah banyak masyarakat yang menggunakan B30 dengan berbagai alasan. Namun, Eni berharap masyarakat dapat melihat ini sebagai upaya untuk menjaga lingkungan agar polusi udara tidak semakin membahayakan. “Pemerintah selalu berusaha membangun gaya hidup ramah lingkungan. Bukan hanya tugas kami, juga pihak lain, komunitas, dan lembaga swadaya dapat menyosialisasikan hal tersebut,” harapnya. Jika di Jawa Tengah sudah lebih dulu menggunakan biodiesel dan mendapat respons positif dari warganya. Lain hal di Medan, Sumatera Utara yang masih menimbulkan kontroversi. Padian Adi Siregar dari LAPK Medan menceritakan, justru BBM dari alam mendapat pertentangan dari masyarakat sipil yang concern terhadap lingkungan. Padahal, kelapa sawit sangat banyak di Medan. Terlebih posisi LPAK menjadi konsorsium Walhi, atau misalnya konsorsium lembaga-lembaga lingkungan juga di Sumatera Utara. “Energi terbarukan lain seperti listrik pun sudah dikembangkan namun membutuhkan lahan yang luas. Sehingga bagi aktivis lingkungan menganggap ini permasalahan,” jelasnya. Bagi kelompok yang concern pada pengembangan energi terbarukan atau biodiesel tentu itu menjadi kesulitannya. “Akhirnya kami konfrontasi antar-NGO atau masyarakat sipil yang kemudian melakukan edukasi atau pembinaan,” tutur Padian.

Ditambah masyarakatnya yang heterogen dan masih berbasis pada harga murah sehingga energi fosil masih menjadi pilihan utama. Dia menegaskan, kini pengembangannya biodiesel lebih cenderung pada misi-misi ideologi. Sementara potensi pasar di Sumatera Utara masih belum dapat dieksplor. Berkaitan dengan lahan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, biodiesel yang termasuk jenis energi yang baru ini juga kemungkinan didorong oleh produsen kelapa sawit. “Mereka produknya melimpah dan mendapat kesulitan pemasaran di luar negeri karena berbagai masalah. Akhirnya didorong untuk digunakan di dalam negeri sebagai campuran bahan bakar,” kata Widjanarka Endro Saksono, pembina YLKI.

https://ekbis.sindonews.com/read/97476/34/bbm-ramah-lingkungan-b30-energi-alami-untuk-indonesia-1594436835

Kaltim.prokal.co | Sabtu, 11 Juli 2020

Menunggu Keseriusan Program B100

Industri kelapa sawit mulai mendapat angin segar. Permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) meningkat di tengah penurunan ekspor. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mencatat, sepanjang Januari–Mei 2020, konsumsi CPO dalam negeri naik 3,6 persen menjadi 7.335 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, konsumsi dalam negeri secara total masih positif di tengah berlakunya PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Salah satu konsumsi yang meningkat berasal dari produk oleokimia sebesar 31,4 persen (year on year/yoy). Berikutnya, konsumsi biodiesel yang meningkat 23,2 persen didukung kebijakan pemerintah yang konsisten menerapkan program B30. Sedangkan dari sisi permintaan global, ekspor CPO Januari–Mei mencapai 12.736 ribu ton atau turun 13,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, nilai ekspor CPO naik dari USD 7.995 juta menjadi USD 8.437 juta. Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil.

Penurunan ekspor pada Mei terbesar terjadi di pasar Tiongkok sebesar 87,7 ribu ton atau turun 21 persen. Lalu, Uni Eropa sebesar 81,5 ribu ton atau turun 16,62 persen ke Pakistan sebesar 47 ribu ton atau turun 23,4 persen dan ke India sebesar 38,6 ribu ton atau turun 9,2 persen. Mukti mengatakan, penurunan ekspor ke Tiongkok diperkirakan terjadi seiring naiknya ekspor crushing oilseed, khususnya kedelai yang cukup besar. Walhasil, pasokan minyak nabati di Negeri Tirai Bambu melonjak. Meski terjadi penurunan ekspor ke beberapa negara, namun ada pula negara lain tujuan lain yang menunjukkan kenaikan. Misalnya, ekspor ke Mesir pada Mei sebanyak 42 ribu ton atau naik 81 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kemudian, ekspor ke Ukraina sebanyak 31 ribu ton atau naik 99 persen secara bulanan, Filipina 29 ribu ton atau naik 73 persen, Jepang 19 ribu ton atau naik 35 persen, dan Oman 15 ribu ton atau naik 85 persen. Kenaikan ini terjadi seiring pemulihan kegiatan ekonomi Tiongkok, India, dan banyak negara lain sehingga mendorong permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestik. Dewan Pembina Gapki Kaltim Azmal Ridwan memperkirakan, kegiatan ekonomi Kaltim atau di Indonesia juga mulai pulih sehingga akan meningkatkan permintaan minyak sawit ke depan. “Permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel,” ujar dia.

Selain itu, permintaan domestik cenderung naik. Karena pemerintah cukup konsisten dengan B30. Tahun depan B100 diharapkan bisa lebih meningkatkan serapan CPO domestik. Sementara itu, penurunan kinerja ekspor CPO Kaltim tercermin dari terkontraksinya volume ekspor CPO sebesar 9,94 persen (yoy) pada triwulan I. Setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh tinggi mencapai 54,14 persen (yoy). Penyebab utama penurunan ekspor CPO bersumber dari terkontraksinya ekspor ke Tiongkok dan India, masing-masing sebesar 34,29 persen (yoy) dan 27,65 persen (yoy). Sebab, pada triwulan sebelumnya tumbuh masing-masing sebesar 48,50 persen (yoy) dan 281,52 persen (yoy).

https://kaltim.prokal.co/read/news/374062-menunggu-keseriusan-program-b100

Kontan.co.id | Jum’at, 10 Juli 2020

HIP biodiesel Juli 2020 naik, Sinar Mas Agro (SMAR) tingkatkan kapasitas pabrik

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk jenis bahan bakar nabati (BBN) biodiesel pada Juli 2020 sebesar Rp 7.321 per liter. Harga ini naik 5,47% dari HIP biodiesel bulan Juni 2020 yang sebesar Rp 6.941 per liter. Kenaikan harga pasar biodesel disebabkan pada bulan Juli, terdapat penyesuaian dengan kenaikan harga crude palm oil (CPO). PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) sebagai salah satu produsen biodiesel menyambut baik kenaikan HIP ini. Pasalnya, faktor utama yang mempengaruhi penjualan perusahaan yang biasa disingkat SMART ini adalah harga pasar CPO. “Hal ini termasuk juga harga biodiesel di mana HIP bahan bakar nabati juga mengikuti pergerakan harga CPO,” kata Investor Relations Sinar Mas Agribusiness and Food Pinta S. Chandra kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7). Sebagai gambaran, penjualan produk biodiesel berkontribusi 15% pada terhadap total penjualan SMART per kuartal I-2020 yang senilai Rp 9,62 triliun. Persentase ini sama dengan kontribusi biodiesel terhadap total pendapatan SMART yang mencapai Rp 17,81 triliun pada semester 1-2019. Pinta menambahkan, hampir seluruh biodiesel yang SMART hasilkan dijual ke dalam negeri untuk memenuhi alokasi kontrak biodiesel yang telah pemerintah tentukan. Alhasil, menurut Pinta, hal tersebut dapat menjaga permintaan biodiesel di tengah pandemi Covid-19 yang memengaruhi perputaran ekonomi di nyaris seluruh dunia. Sebagaimana diketahui, sejak Januari 2020 pemerintah memberlakukan program pencampuran 30% biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar atau dikenal dengan istilah B30. Program ini merupakan peningkatan dari mandat B20.

Peningkatan kapasitas pabrik

Pada akhir Maret 2020, SMART menawarkan Obligasi Berkelanjutan II SMART Tahap I Tahun 2020 dengan nilai pokok Rp 775 miliar. Sebesar 33% dari Rp 775 miliar akan digunakan untuk membiayai sebagian belanja modal untuk penambahan kapasitas pabrik biodiesel yang berlokasi di Tarjun, Kalimantan Selatan. SMART akan meningkatkan kapasitas produksi biodiesel sebesar 1.500 ton per hari. Menurut Pinta, dengan asumsi 300 hari kerja dalam setahun, maka kapasitas produksi per tahun adalah 450.000 ton. “Penambahan kapasitas ini terkait dengan dukungan SMART terhadap program pemerintah Indonesia dalam meningkatkan mandat pencampuran bahan bakar nabati,” ujar Pinta. Peningkatan kemampuan produksi juga dilakukan karena kapasitas pabrik biodiesel SMART sudah mencapai utilisasi penuh. Sebagai informasi, SMART saat ini memiliki dua kilang biodiesel yang masing-masing berkapasitas 300.000 ton per tahun. Kilang tersebut berlokasi di Marunda, Jakarta dan Tarjun, Kalimantan Selatan. Dengan penambahan ini, SMART akan memiliki kapasitas produksi biodiesel sebesar 1,05 juta ton per tahun.

https://investasi.kontan.co.id/news/hip-biodiesel-juli-2020-naik-sinar-mas-agro-smar-tingkatkan-kapasitas-pabrik

Timesindonesia.co.id | Sabtu, 11 Juli 2020

Inovasi Biofuel, Bupati Muba Bakal Jadi Pembicara Seminar International

Berkat terobosan pengolahan kelapa sawit menjadi bensin atau bahan bakar nabati (BBN) Biofuel yang sudah dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex diminta menjadi pembicara atau keynote speaker pada ajang internasional. Acara itu adalah Seminar The 4th First 2020 International Conference pada 10 -11 November mendatang dengan tema Synergy of Applied Technology for Social-Technopreneur Based on Local Resource to Generate Sustanability Development. Ketua Panitia The 4th Forum In Research, Science, and Technology (First) 2020 International Conference, Rita Martini menyebut paparan Biofuel Bupati Dodi Reza sangat pas dengan tema seminar internasional ini. “Di mana nantinya peserta yang akan ikut serta dari 5 negara,” ungkapnya didampingi Koordinator Keynote Speaker, Martha Aznury saat Audiensi bersama Bupati Muba Dr Dodi Reza di Mess Perwakilan Muba di Palembang, Jumat (10/7/2020).

Dikatakan Martha seminar internasional yang sudah keempat kalinya digelar, kali ini akan dilakukan secara virtual atau online mengingat masih dalam pandemi COVID-19. Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex akan menjadi pembicara bersama 3 narasumber berkompeten lainnya yakni Prof Chiaki Ogino (Kobe University), Wahyu Caesarendra ST M Eng PhD (University of Brunei Darusalam) dan Prof Yuliansyah MSA PhD Ak CA (Universitas Lampung). Untuk Sumsel dan khususnya Indonesia, dirasa sangat pantas dan pas mengundang Bupati Muba Dr Dodi Reza menjadi keynote speaker. “Muba punya inovasi yang sustanaible dan Kepala Daerah di Sumsel ini sangat menguasai bahasa Inggris, mengingat pada seminar internasional nantinya pembicara akan menggunakan bahasa Inggris aktif,” ungkapnya. Ia menambahkan, paparan biofuel dari Bupati Muba nantinya diminta untuk dibuatkan paper, pasalnya paparan tersebut akan dijadikan jurnal yang terindex scopus. Sementara itu, Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex mengatakan, dirinya berterima kasih atas undangan panitia seminar The 4th First 2020 International Conference yang meminta dirinya untuk menjadi narasumber. “Inovasi Biofuel sangat pas untuk dipaparkan pada tema seminar The 4th First 2020 International Conference,” ulasnya. Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex mengaku dirinya bersedia nantinya untuk menyiapkan waktu untuk menjadi keynote speaker memaparkan inovasi biofuel di Muba. “Akan saya persiapkan materinya, Insya Allah nantinya dapat bermanfaat untuk para peserta,” ujar mantan Anggota DPR RI dua periode ini.

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/282699/inovasi-biofuel-bupati-muba-bakal-jadi-pembicara-seminar-international

Republika.co.id | Sabtu, 11 Juli 2020

Operasional Semua PLTD akan Disetop

Pemerintah melalui Kementerian ESDM akan menyetop semua penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) secara bertahap. Penyetopan dilakukan sampai tiga tahun mendatang. Menteri ESDM, Arifin Tasrif menjelaskan langkah ini dilakukan untuk membebaskan dari ketergantungan bahan bakar fosil di sektor pembangkit. Apalagi, kedepan Indonesai akan bergerak ke energi terbarukan. “Kami menargetkan mengganti semua pembangkit listrik tenaga diesel dalam waktu tiga tahun ke depan,” kata Arifin, Jumat (10/7). Menurut Arifin, penghapusan PLTD adalah bagian dari transisi energi yang kini sedang didorong pemerintah untuk mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil. Jumlah PLTD tersebut masih cukup banyak dan tersebar di berbagai wilayah termasuk wilayah pelosok tanah air. PLN mengklaim penggunaan BBM lebih efisien di daerah pelosok yang belum memiliki sumber energi alternative Salah satu upaya untuk memangkas penggunaan BBM pembangkit ini bisa dilihat dari Keputusan Menteri ESDM No.13/2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG, Serta Konversi Penggunaan BBM dengan LNG Dalam Penyediaan Tenaga Listrik. Dalam aturan itu PLN mendapatkan kepastian pasokan LNG sebesar 166,98 BBTud untuk mengoperasikan 1.697 megawatt (MW) pembangkit listrik. Dalam aturan itu disebutkan ada 52 pembangkit listrik yang tidak akan lagi gunakan BBM dan akan menggunakan gas.

Selain mengurangi penggunaan BBM, pemerintah juga mendorong penyediaan pasokan energi bagi masyarakat di daerah terpencil dan terluar dengan memanfaatkan energi terbarukan. “Kami sedang mencari terobosan untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Salah satunya dengan mekanisme co-firing biomassa pada pembangkit listrik batu bara untuk mengurangi emisi dan meningkatkan peran energi terbarukan. Kami juga berencana untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batubara tua dan menerapkan teknologi energi batu bara ramah lingkungan,” ungkap Arifin. Biomassa dapat diolah dalam bentuk limbah dan sekaligus mengurangi emisi. Saat ini, Indonesia sedang mempersiapkan fasilitas pemanfaatan limbah ke energi di 14 kota, mengintegrasikan pengelolaan limbah dan pembangkit. Kemudian, penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biofuel yang berbahan dasar minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). “Saat ini sedang mengembangkan biofuel untuk secara bertahap mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dengan memperkenalkan biodiesel dan membangun kilang hijau (green refinery) untuk memaksimalkan potensi minyak sawit,” kata Arifin.

https://republika.co.id/berita/qdam8x368/operasional-semua-pltd-akan-disetop

Kontan.co.id | Sabtu, 11 Juli 2020

Pengembangan energi bersih jadi komitmen kuat Menteri ESDM, target 23% EBT dikebut

Indonesia kembali menegaskan komitmen yang kuat dalam menerapkan energi bersih dalam meningkatkan pasokan energi, dengan memperluas pemanfaatan serta mendorong investasi energi terbarukan. Komitmen ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat menjadi pembicara dalam pertemuan virtual International Energy Agency (IEA) Clean Energy Transitions Summit, ajang pertemuan global terbesar di bidang energi & iklim. Pertemuan ini mengumpulkan lebih dari 40 Menteri dari negara-negara yang mewakili 80% penggunaan dan emisi energi global. “Untuk memenuhi permintaan energi, Indonesia telah menetapkan target 23% energi terbarukan dalam bauran energi pada tahun 2025. Kebijakan ini, dikombinasikan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29% pada tahun 2030, merupakan jalan yang jelas menuju sistem energi yang lebih bersih,” tegas Menteri Arifin, Kamis (9/7) petang. Dalam kesempatan ini, Menteri Arifin juga mengungkapkan bahwa dengan adanya pandemi COVID-19, saat ini ekonomi dunia tengah menghadapi tantangan yang tidak mudah, mempengaruhi setiap sudut dunia dan menghambat pembangunan berkelanjutan dan transisi energi bersih. Salah satu dari banyak dampak pandemi di sektor energi tercermin dalam penurunan yang signifikan pada konsumsi energi global karena penerapan kebijakan isolasi dan lockdown. Namun sisi baiknya, kebijakan lockdown juga membawa dampak positif bagi pengurangan signifikan emisi CO2 di Indonesia. “Oleh karena itu, selama masa yang penuh tantangan ini, produksi energi harus disesuaikan untuk menciptakan keseimbangan baru dan untuk mendorong transisi energi bersih,” lanjut Menteri ESDM.

Untuk mencapai target dan mendorong investasi energi terbarukan, Pemerintah Indonesia saat ini sedang mempersiapkan Peraturan Presiden tentang Feed in tariff. Di saat yang bersamaan, Indonesia juga menggunakan potensi energi terbarukan untuk menyediakan pasokan energi bagi masyarakat di daerah terpencil dan terluar. Pemerintah juga menargetkan untuk mengganti semua pembangkit listrik tenaga diesel dalam tiga tahun ke depan. “Kami sedang mencari terobosan untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik tenaga batubara. Salah satunya dengan mekanisme co-firing biomassa pada pembangkit listrik batubara untuk mengurangi emisi dan meningkatkan peran energi terbarukan. Kami juga berencana untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batubara tua dan menerapkan teknologi energi batubara ramah lingkungan,” ungkap Menteri Arifin. Menurut Menteri ESDM, biomassa sangat penting dalam proses transisi energi bersih Indonesia, mengingat biomassa adalah sumber energi terbarukan, dapat diolah dalam bentuk limbah dan sekaligus mengurangi emisi. Saat ini, Indonesia tengah mempersiapkan fasilitas pemanfaatan limbah ke energi di 14 kota, mengintegrasikan pengelolaan limbah dan pembangkit listrik. Di samping itu, Indonesia juga meningkatkan pemanfaatan biomassa sebagai alternatif bahan bakar fosil. “Dalam transportasi, kami saat ini sedang mengembangkan biofuel untuk secara bertahap mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dengan memperkenalkan biodiesel dan membangun kilang hijau (green refinery) untuk memaksimalkan potensi minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME)”, Jelas Menteri Arifin.

Selain pemanfaatan biomassa, Pemerintah Indonesia memastikan keberlanjutannya, mengingat Indonesia memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Investasi dalam pemanfaatan teknologi dan sistem diperlukan untuk mencapai efisiensi energi yang lebih baik. “Kami telah menetapkan target yang berani untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama dari sektor hutan dan penggunaan lahan. Kami bekerja sama dengan mitra kami dalam program pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) untuk mencapai target ini, salah satunya adalah melalui kemitraan dengan Kerajaan Norwegia dalam model kinerja harga karbon terverifikasi, yang telah terbukti mengurangi setara dengan 11,2 Juta ton CO2,” ujar Menteri ESDM. Indonesia juga sangat menghargai kerja sama dengan IEA dalam mendukung transisi energi. Pada kesempatan ini, Direktur Eksekutif IEA Dr. Fatih Birol juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin antara Indonesia dan IEA. “Sebagaimana Menteri Tasrif sampaikan, kami juga sangat senang bekerja sama dengan Indonesia dalam konteks program transisi energi bersih pada energi terbarukan,” ujar Birol.

https://industri.kontan.co.id/news/pengembangan-energi-bersih-jadi-komitmen-kuat-menteri-esdm-target-23-ebt-dikebut

Kumparan.com | Minggu, 12 Juli 2020

Bupati Musi Banyuasin Paparkan Inovasi Biofuel ke 5 Negara

Bupati Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Dodi Reza Alex menjadi sorotan internasional usai melakukan trobosan pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati atau BBN biofuel yang sudah dilakukan di Muba. Kini Dodi diminta menjadi pembicara pada ajang Seminar The 4th First 2020 International Conference.   Ketua Panitia The 4th Forum In Research, Science, and Technology (First) 2020 International Conference, Rita Martini didampingi Koordinator Keynote Speaker, Martha Aznury mengatakan, pihaknya meminta Bupati Muba menjadi pembicara pada seminar tersebut pada 10-11 November mendatang.  “Pesertanya ada lima negara dan temanya Synergy of Applied Technology for Social-Technopreneur Based on Local Resource to Generate Sustanability Development,” jelas Rita Martini, Minggu (12/7).  Rita bilang, seminar internasional yang sudah digelar empat kali itu, akan dilakukan secara virtual atau online mengingat masih pandemi COVID-19. Dodi Reza akan menjadi pembicara bersama 3 narasumber berkompeten lainnya.  “Ada Prof Chiaki Ogino dari Kobe University, Wahyu Caesarendra ST M Eng PhD dari University of Brunei Darusalam dan Prof Yuliansyah MSA PhD Ak CA dari Universitas Lampung,” kata dia.   Menurut Rita, Dodi punya inovasi yang sustanaible dan Kepala Daerah di Sumsel yang sangat menguasai Bahasa Inggris, mengingat pada seminar internasional nantinya pembicara akan menggunakan Bahasa Inggris aktif.  Paparan biofuel Bupati Muba Dodi Reza nantinya diminta untuk dibuatkan paper, pasalnya paparan tersebut akan dijadikan jurnal yang terindex scopus.   Sementara itu, Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex mengatakan, dirinya berterima kasih atas undangan panitia seminar. Inovasi biofuel sangat pas untuk dipaparkan pada tema seminar kali ini.   “Akan saya persiapkan materinya, semoga nantinya dapat bermanfaat untuk para peserta,” jelas dia

https://kumparan.com/urbanid/bupati-musi-banyuasin-paparkan-inovasi-biofuel-ke-5-negara-1tn4cfu5mAa/full

Bisnis Indonesia | Senin, 13 Juli 2020

PERMINTAAN CPO MULAI PULIH

Harga minyak sawit berjangka masih berada di jalur kenaikannya seiring dengan pemulihan permintaan konsumen terbesar dunia, India dan China, setelah sempat anjlok akibat sentimen pandemi Covid-19. Berdasarkan data China National Grain and Oils Information Center, pembelian minyak sawit atau crude Palm Oil (CPO) dari Negeri Panda itu dapat meningkat menjadi 550.000 ton pada periode Juli 2020. “Angka tersebut lebih tinggi daripada estimasi bulan lalu, yaitu China hanya akan membeli CPO sebesar 450.000 ton,” tulis China National Grain and Oils Information Center seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (12/7). Selain itu, persediaan CPO di pelabuhan tercatat turun sekitar 30.000 ton dari bulan sebelumnya, menjadi sekitar 390.000 per 8 Juli 2020. Adapun, angka itu tidak termasuk 110.000 ton persediaan CPO yang digunakan untuk keperluan industri. Penurunan persediaan yang cukup signifikan menjadi sinyal kuat bahwa konsumsi mulai kembali meningkat dan China diyakini akan segera memesan CPO untuk mengisi kembali persediaannya. Di sisi lain, pada pekan lalu data impor India terhadap minyak goreng, produk turunan CPO, melonjak ke level tertinggi sejak lima bulan terakhir pada Juni karena pedagang dan penyuling mendorong pembelian untuk menambah stok. Solvent Extractors\’ Association of India menjelaskan bahwa inbound shipment CPO Negeri Taj Mahal itu naik 45,5 % dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi sebesar 562.932 ton. Sementara itu, surveyor kargo, Intertek Testing Services, memperkirakan pengiriman CPO dari petard terbesar dunia ke India naik menjadi 1,91 juta ton pada periode Juni 2020, daripada bulan sebelumnya sebesar 1,67 juta ton.

Intertek juga memperkirakan, penjualan ke anak benua India naik menjadi 663.853 ton dari sebelumnya 498.868 ton, sedangkan pembelian dari China naik menjadi 258.436 ton daripada bulan sebelumnya sebesar 121.470 ton. Adapun, berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (10/7), harga CPO untuk kontrak September 2020 di bursa Malaysia naik 0,62 % ke level 2.418 ringgit per ton. Sejak menyentuh level terendah pada awal Mei 2020, harga CPO telah pulih lebih dari 20%. Kendati demikian, harga CPO masih terkoreksi sekitar 19,27% sepanjang tahun berjalan. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa harga CPO telah berhasil melampaui target level resisten psikologisnya di atas 2.400 ringgit per ton didukung sentimen perbaikan ekonomi konsumen CPO utama dunia pasca-bckdown. Dalam waktu dekat, harga CPO masih terancam melemah akibat aksi profit taking oleh investor setelah harga menyentuh level tertinggi. Ibrahim menjelaskan penurunan tidak begitu signifikan dengan batas level support tidak jauh berbeda, yaitu di kisaran level 2.300 ringgit per ton.

MANDAT  B30

Di sisi lain, secara jangka panjang, CPO masih sangat positif untuk bergerak lebih tinggi lagi. Pasalnya, isu utama dari kenaikan CPO adalah isu penerapan kebijakan biodiesel oleh Malaysia dan Indonesia yang kembali menghangat. Untuk diketahui, Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan B30, yaitu mandat untuk mewajibkan pencampuran 30% biodiesel dengan 70 % bahan bakar minyak jenis solar. “Sentimen biodiesel itu akan mengemuka lagi. Harga mungkin akan mencapai 2.600 ringgit per ton hingga 2.700 ringgit per ton pada kuartal ketiga tahun ini,” ujar Ibrahim kepada Bisnis, Sabtu (11/7). Sementara itu, Direktur Bioenergi EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mengatakan bahwa konsumsi biodiesel pada paruh pertama tahun ini sudah mencapai 43,4% dari total target setahun penuh 2020. Kementerian ESDM pun melihat konsumsi biodiesel akan meningkat pada bulan ini sejak Juni seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar di beberapa kota. Adapun, Kementerian ESDM juga menetapkan harga indeks pasar (HIP) untuk jenis bahan bakar nabati (BBN) biodiesel pada Juli 2020 sebesar Rp 7.321 per liter. Harga itu naik 5,47% dari HIP biodiesel bulan Juni 2020 yang sebesar Rp6.941 per liter. Penyesuaian tersebut seiring dengan peningkatan harga CPO dalam beberapa bulan terakhir. Tim peneliti di Hong Leong Investment Bank Bhd juga mengatakan bahwa rata-rata harga CPO tahun ini berhasil naik ke kisaran 2.446 per ton, salah satunya dipicu oleh komitmen Indonesia terhadap mandat biodisel. Namun, terlepas dari optimisme baru-baru ini, pihaknya mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO di level 2.350 hingga 2.400 ringgit per ton pada 2020-2021. “Ini karena beberapa alasan termasuk peningkatan kekhawatiran tentang penyebaran gelombang kedua Covid-19 dan pemulihan permintaan dari China mungkin tidak sekuat sebelum Covid-19,” tulis Hong Leong Investment Bank Bhd dalam risetnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

Lonjakan kasus positif Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan ancaman terhadap permintaan minyak nabati, termasuk minyak sawit, terutama dari negara-negara ekonomi utama. Hong Leong Investment Bank juga menjelaskan kesenjangan harga yang lebih sempit antara CPO dan minyak kedelai juga menjadi sentimen harga dapat bertahan di kisarannya saat ini dan tidak menguat lebih tinggi

Harian Seputar Indonesia | Sabtu, 11 Juli 2020

B30 Energi Alami untuk Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Indonesia telah berkomitmen menggunakan biodiesel sebagai salah satu alternatif bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Program nyatanya adalah peresmian Biodiesel 30 Persen (B30) oleh Presiden Joko Widodo pada akhir 2019. Presiden Jokowi saat ini menegaskan bahwa kehadiran B30 untuk mengurangi impor migas dan menekan ketergantungan bahan bakar fosil dengan memanfaatkan kelapa sawit yang melimpah ruah di Indonesia. Kepala Badan Pengembangan SDM Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM Wiratmaja mengatakan, impor minyak Indonesia saat ini sekitar 800.000barelperhari darikon-sumsitotall,5-l,6 juta barel. “Jika program biodiesel ini berkembang, Indonesia bukan mengimpor BBM, namun dapat mengekspor biofuel karena termasuk jenis BBM bersih, ramah lingkungan, dan tentu ini dapat terus diperbarui,” sebutnya, dalam sebuah diskusi virtual yang diadakan Kementerian ESDM. B30 adalah BBM campuran 30% minyak kelapa sawit dan 70% solar un tukmesin diesel.

Kementerian ESDM juga sudah menetapkan harga indeks pasar (HIP) untuk biodiesel pada Juli 2020, yakni Rp7.321 perliter. Besaran angka tersebut mengalami kenaikan dari bulan Juni sebelumnyayangberada di angka Rp6.941 perliter. Tatang Hemas Soerawidjaja, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (Ikabi), mengatakan, kualitas B30 ini sama dengan 95% solar mumi. Tentu lebih ramah lingkungan karena efisiensi pembakaran dan emisigasbuangnyalebih bersih. Diajuga meyakinibiodiesel tidak mengandung sulfur. Konsumsi spesifik bahan bakar mobilberbahan bakar B30 sedikit lebih besar dari yangberbahan solar murni, namun tidak memengaruhi tenaga mobil. “Biodiesel mengandung atom oksigen sehingga relatif lebih suka air. Ma- ka dariitu, tangki-tangki yang akan digunakan untuk menyimpan B30 harus terlebih dahulubebas dari kontaminasi air. Selanjutnya harus seperti itu, jangan terkena air,” katanya. Tatangjuga menambahkan, biodiesel memiliki daya melarutkan yang baik. “B30 dapat membersihkan kerak di dinding tangki penyimpan dan saluran bahan bakar sehingga bisa menyum-bat saringan bahanbakar,” ujarnya.

Karena itu, saat baru menggunakan B30, padapekan pertama perlu mengganti saringan bahan bakar. Biodiesel tidak kompatibel dengan material-material logam seperti tembaga, timah, seng, kuning, dan perunggu, serta bahan nonlogam seperti karet alam maupun karet sintesis. “Janganlupa B30 hendaknya tidak berkontak dengan onderdil yang dibuat dari material-material itu. Lebih baik dari bahan baja karbon, baja anti-karat, aluminium, teflon, viton, atau nylon 6/6,” sebut Tatang. Berbicaramengenai biodiesel, Provinsi Jawa Tengah sudah lebih dulu menggunakan biodiesel sejak 2018 dengan 20% minyakkelapa sawitnya. Setelah menjadi program pusat, Jawa Tengah menaikkannya lagi sehingga kini sudah sama menjadi 30% atau B30. Eni Lestari, Kabid Energi Baru dan Terbarukan dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, mengatakan, mereka menjadi pelopor penggunaan biodiesel karena mempunyai Perda RUED (Rencana Umum Energi Daerah) Nomor 12Tahun 2018. Kini sudah 16provinsiyangjugamemiliki kebijakan yang sama dan selalu dimonitor oleh Kemendagri dan Dewan Energi Nasional di bawah Kementerian ESDM. “Provinsi yangbelum selalu didorong, karena ini wajib untukprovinsi menyusun kebijakan Perda RUED tersebut,” ujarnya.

Di Jawa Tengah juga mengalami tantangan tersendiri. Pada awal hadirnya biodisel ialah ketersediaanla-han masih fokus untuk pangan, belum untuk energi. Potensi tanaman di Jawa Tengah banyak komoditas na-munjustrubukan kelapa sawit. Potensi bionabati lain, yakni jagung, daun nyamplung, dan jarak namun masih dalam tahap pengembangan belum komersial. Di Jawa Tengah sudah banyak ma-syarakatyangmenggunakanB30de-ngan berbagai alasan. Namun, Eniber-harap masyarakat dapat melihat ini sebagaiupaya untuk menjaga lingkungan agarpolusiudaratidaksema-kin membahayakan. “Pemerintah selalu berusaha membangun gaya hidup ramah lingkungan. Bukan hanya tugas kami, juga pihak lain.komuni tas, dan lembaga swadaya dapat menyosialisasikan hal tersebut,” harapnya. Jika di Jawa Tengah sudah lebih dulu menggunakan biodiesel dan mendapat respons positif d ari warganya. Lain hal di Medan, Sumatera Utara yang masih menimbulkan kontroversi. Padian Adi Siregar dari LAPK Medan menceritakan, justru BBM dari alam mendapat pertentangan da-ri masyarakat sipil yang concern terhadap lingkungan. Padahal, kelapa sawit sangat banyak di Medan. Terlebih posisi LPAK menjadi konsorsium Walhi, atau misalnya konsorsium lembaga-lembaga lingkungan juga di Sumatera Utara. “Energiter-barukan lain seperti listrik pun sudah dikembangkan namun membutuhkan lahan yang luas. Sehingga bagi aktivis lingkungan menganggap ini per-masalahan,”jelasnya.

Ditambah masyarakatnya yanghe-terogen dan masih berbasis pada harga murah sehingga energi fosil masih menjadi pilihan utama. Diamenegas-kan.kinipengembangannyabiodiesel lebih cenderungpada misi-misi ideologi Sementarapotensi pasar di Sumatera Utara masih belum dapat dieksplor. Berkaitan dengan lahan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, biodiesel yangtermasuk jenis energi yangbaru ini juga kemungkinan didorong oleh produsen kelapa sawit. “Mereka produknya melimpah danmendapatkesulitanpemasarandi luarnegerikarenaberbagaimasalah. Akhirnya didorong untuk digunakan di dalam negeri sebagai campuran bahan bakar,”kataWidjanarka Endro Saksono, pembina YLKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *