Home Uncategorized Bioenergi, Masa Depan Gemilang Ketahanan Energi Indonesia

Bioenergi, Masa Depan Gemilang Ketahanan Energi Indonesia

Kompasiana.com | Rabu, 24 Juni 2020

Bioenergi, Masa Depan Gemilang Ketahanan Energi Indonesia

Pada tahun 2015, Indonesia secara resmi mengadakan kerjasama dalam bidang pengembangan Bioenergi bersama Swedia, hal ini ditandai dengan ditandatanginya MoU antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI bersama Menteri Energi Swedia. Bukti keseriusan Indonesia dalam pengembangan Bioenergi juga tercermin dalam penerapan program Mandatori Biodiesel 30% (B30). B30 merupakan program pemerintah yang mewajibkan pencampuran 30% biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk Biosolar B30. Bioenergi merupakan energi altenatif yang berasal dari sumber-sumber biologis. Keunggulan pemanfaatan bioenergi adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi salah satunya, meningkatkan kualitas lingkungan dengan mengurangis emisi rumah kaca (GRK) dari penggunaan bahan bakar fosil ,serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang jumlah nya semakin menipis. Pemanfaatan Bioenergi dapat menjadi solusi ketahanan energi masa depan sebab produksi bahan bakar fosil diperkirkan akan mengalami penurunan pada 2025 dan diperlukan sumber energi yang dapat terus diproduksi dan tersedia dalam jangka waktu lama. Indonesia merupakan salah satu Negara dengan kekayaan alam yang melimpah, salah satunya perkebunan sawit. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian, lahan sawit Indonesia pada tahun 2019 mencapai 14,23 juta hektar (ha) yang terdiri dari 5,8 ha juta perkebunan rakyat,635 ribu ha perkebunan besar Negara, dan 7,88 juta ha perkebunan swasta . Minyak yang dihasilkan oleh kelapa sawit menghasilkan dua jenis energy yaitu Biodiesel yang dihasilkan pengolahan lebih lanjut dari minyak kelapa sawit dan Biopower yang dihasilkan melalui penggunaan residu pengolahan Tandan Buah Segar (TBS). Dengan potensi perkebunan sawit dan kekayaan alam lain yang sangat besar tidak heran Indonesia disebut sebagai lumbung Bioenergi di masa depan.

Namun hal ini tidak serta merta berjalan tanpa tantangan, pengolahan CPO didalam negeri untuk pelaksanaan mandat biodiesel menyebabkan berkurangnya pemasukan Negara dari ekspor CPO. Biaya produksi biodiesel yang lebih tinggi menyebabkan harga biodiesel sulit bersaing di pasar sehingga membutuhkan penyelarasan harga minyak diesel yang masih subsidi dengan harga biodiesel. Selain itu teknologi pengolahan biodiesel juga masih sangat perlu ditingkatkan untuk menyesuaikan hasil pengolahan dengan kualitas yang diinginkan oleh pasar. Tantangan lain yang muncul apabila diadakan pengembangan Bioenergi dari kelapa sawit adalah berkurangnya jumlah hutan yang ada di Indonesia dikarenakan pengembangan besar-besaran perkebunan kelapa sawit hal ini kemudian mendapat kecaman dari banyak pihak. Dibutukan dukungan dari masyarakat umum sebagai pengguna, pelaku usaha, pemerintah daerah dan pusat yang mengatur regulasi serta seluruh elemen dan pihak terkait untuk dapat mengatasai tantangan dan mewujudkan cita-cita ketahanan energi Indonesia melalui bioenergi di masa depan.

https://www.kompasiana.com/demsemarang/5ef30f64d541df5a3d57a082/bioenergi-masa-depan-gemilang-ketahanan-energi-indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *